Bahan Pengawet: Manfaat di Rasio Tepat

January 22, 2017

manfaat pengawet tepat

sumber gambar: google.com


sumber gambar: google.com

(Oleh: Dedi Candra dan Hayah Afifah – Ilmu dan Teknologi Pangan IPB)

Momok tentang bahaya bahan pengawet dalam produk pangan kerap kali meresahkan masyarakat. Pemahaman awam cenderung memvonis penggunaan bahan pengawet adalah hal yang merugikan dan membahayakan. Padahal kenyataannya, penggunaan bahan pengawet yang tepat dan sesuai dengan regulasi memberikan sejumlah keuntungan bagi konsumen.

Bahan pengawet didefinisikan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) sebagai bahan tambahan pangan untuk mencegah atau menghambat fermentasi, pengasaman, penguraian, dan perusakan lainnya atau biasa disebut pembusukan yang disebabkan oleh mikroba, yaitu bakteri, khamir, atau kapang. Tidak semua jenis produk pangan membutuhkan bahan pengawet. Bahan pengawet biasa ditambahkan ke produk yang mudah rusak oleh aktivitas mikroba.

Keuntungan dari penambahan pengawet, yaitu keamanan produk bisa terjaga hingga produk sampai ke tangan konsumen. Aktivitas pengawet yang bersifat bakteriosidal akan membunuh mikroba penyebab kebusukan dan penyakit.

Penambahan pengawet juga akan memperpanjang umur simpan produk pangan. Tanpa bahan pengawet, besar kemungkinan mutu cita rasa, warna, dan aroma produk akan menurun karena aktivitas mikroba pembusuk. Hal ini yang menyebabkan produk cepat memasuki waktu kedaluwarsa.

Umur simpan yang panjang memungkinkan distribusi produk menjadi lebih luas. Berbagai produk pangan kini dapat dinikmati di berbagai penjuru daerah dengan kualitas yang sama.

Kelebihan lainnya dapat dirasakan pada produk tertentu seperti buah-buahan. Buah musiman kini dapat dinikmati sepanjang tahun karena pengolahan yang tepat serta penambahan bahan pengawet yang tepat dan sesuai dengan regulasi. Biasanya produk buah olahan ini dikemas dalam bentuk kaleng.

Regulasi untuk bahan pengawet tercantum di dalam Peraturan Kepala BPOM No.36 tahun 2013 tentang batas maksimum penggunaan bahan pengawet. Di dalamnya terdapat daftar kategori pangan, acceptable daily intake (ADI) atau asupan yang boleh dikonsumsi dalam satu hari, serta maximum level atau batas maksimum yang diperbolehkan.

Penentuan batas maksimum dilakukan berdasarkan kajian ilmiah yang dilakukan oleh BPOM berdasarkan banyak aspek, di antaranya aspek keamanan bagi manusia (safety) dan paparan konsumsi bahan pengawet dalam berbagai produk pangan oleh populasi masyarakat di Indonesia (exposure) sehingga dapat dipastikan keamanannya.

Sebagai contoh, salah satu bahan pengawet yang sering digunakan dalam produk kecap dan minuman, yaitu asam benzoat memiliki ADI 0-0,5 mg/kg berat badan dan batas maksimum 600 mg/kg produk pangan. Artinya, untuk orang dewasa (misalnya berat badan 60 kg) dalam satu hari maksimum konsumsi pengawet natrium benzoat dalam pangan adalah 30 mg (0,5 mg/berat badan x 60 kg berat badan) dan batas maksimum penambahan natrium benzoat pada produk pangan pada saat pengolahan adalah 600 mg/kg produk pangan.

Dalam Peraturan Kepala BPOM yang sama juga tercantum sanksi administratif bagi produsen yang melanggar. Sanksi bisa berujung pada pemusnahan dan pencabutan izin edar produk. Dengan adanya regulasi ini, produsen produk pangan diharapakan dapat taat pada regulasi pemerintah sehingga keamanan konsumen dapat terjamin. Konsumen juga diharapkan bijak dalam menyikapi soal penggunaan bahan pengawet dalam produk pangan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *